Laporan fieldtrip PBB

Laporan Fieldtrip                                                Hari/ tanggal     : Minggu/15 April 2012

mk. Pengetahuan Bahan Baku                  Asisten              : Anggraeni Ashory

 

 

 

 

LAPORAN FIELDTRIP PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PELABUHAN RATU

 

 

Kelompok 5

 

Santiara Putri Pramestia                      C34100003

Emilia Dian Prabawati                        C34100012

Reny Hardiyanti                                 C34100021

Marie Violeta Nuna Tukan                 C34100032

Bayu Irianto                                        C34100040

Pipih Mahmudah                                 C34100052

Annisa Wulandari                               C34100056

Maya Rahmanita Hardianti                 C34100062

Khalida Hanum                                   C34100070

Hendra Nur Fauzan                            C34100079

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

1 PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Indonesia adalah negara maritim karena memiliki daerah perairan yang sangat luas, yaitu sekitar 2/3 dari keseluruhan luas wilayah negara ini. Potensi perikanan di Indonesia pun sangat bagus, mungkin dipengaruhi oleh posisinya yang masuk kedalam segitiga karang dunia sehingga Indonesia memiliki biodiversitas sangat tinggi. Dengan luasnya perairan dan tingginya potensi produksi perikanan yang dianugerahkan Tuhan ini, maka Indonesia dapat dikatakan memiliki potensi yang tingkat perikanan sehingga ikan yang terdapat di perairan Indonesia pun sangatlah beraneka ragam.

Indonesia memiliki beberapa jenis pelabuhan perikanan, salah satunya adalah Pelabuhan Luas Perikanan Nusantara Palabuhan Ratu yang lokasinya terdapat di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Pelabuhan perikanan nusantara Palabuhan Ratu dibangun tahun 1993 dan disahkan oleh Presiden Soeharto yang menjabat di zaman itu. Dermaga 2 Pelabuhan PPN Pelabuhan Ratu mulai beroperasi pada tahun 2003. Pemerintah merencanakan pengembangan pelabuhan PPN Pelabuhan Ratu menjadi Pelabuhan Perikanan Samudera Pelabuhanratu. Luas pelabuhan ini adalah sekitar 10,2 hektar dan dilengkapi sarana utama berupa kolam, dramaga dan free water. Sejak awal diresmikan hingga saat ini, Palabuhan Ratu telah mendaratkan 6539 ton hasil tangkapan.

            Dalam kunjungan ke Palabuhan Ratu, dijumpai berbagai biota hasil perairan yang baru didaratkan dari air laut dan umumnya masih bermutu segar. Biota-biota yang ditemui di Palabuhan Ratu antara lain ikan tongkol, ikan cakalang, ikan layur, ikan kantong semar, cumi-cumi, berbagai macam udang dan lobster serta ikan tuna yang umumnya belum dewasa. Selain sebagai tempat pendaratan dari banyak spesies penting perikanan tangkap, di daerah sekitar Pelabuhan Ratu juga dipakai sebagai tempat untuk membudidayakan beberapa spesies yang digunakan sebagai bahan baku perikanan, dan juga tempat untuk melakukan pengolahan atau preparasi pertama agar komoditas hasil tangkapan tetap segar. Kegiatan studi lapang ke Palabuhan Ratu dilaksanakan dengan tujuan agar mahasiswa yang mengambil mata kuliah bahan baku hasil perairan dapat mengenal berbagai macam jenis ikan yang didaratkan di pelabuhan ratu dan  mengetahui aspek-aspek yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas bahan baku hasil perairan.

 

1.2            Tujuan

Mengetahui berbagai hal mengenai karakteristik bahan baku yang terdapat di Tempat Pelelangan Ikan Palabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.

 

2 METODOLOGI

2.1       Waktu dan Tempat

Kegiatan fieldtrip di Palabuhan Ratu Sukabumi, Jawa Barat dilaksanakan pada hari Minggu, 15 April 2012 pada pukul 01.00-21.00 WIB.

 

Gambar 1 Peta lokasi Pelabuhan Ratu, Sukabumi

2.2       Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada kegiatan fieldtrip di Pelabuhan Ratu Sukabumi ini adalah kerang, ikan layur, ikan pari, ikan kantong semar, dan ikan tongkol yang digunakan sebagai objek pengamatan. Alat yang digunakan diantaranya kamera, buku dan alat tulis.

2. 3      Prosedur Kerja          

Praktikum Pengetahuan Bahan Baku dan Penanganan Hasil Perairan di Pelabuhan Ratu diawali dengan pengamatan (observasi) jenis – jenis ikan yang telah ditentukan dan wawancara kepada pedagang sekaligus nelayan di pasar ikan. Setelah itu praktikan mengunjungi Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk diberi penyuluhan tentang pelabuhan perikanan. Praktikan juga mengunjungi tempat pemindangan, budi daya sidat dan perusahaan ekspor layur dan sidat. Selain itu, praktikan juga melakukan wawancara dengan para nelayan yang mendaratkan ikan di dermaga, khususnya ikan tuna. Setelah mendapatkan informasi tentang ikan yang telah ditentukan kemudian ikan-ikan tersebut difoto utuk didata. Berikut adalah diagram alir prosedur kerja fieldtrip di Pelabuhan Ratu:

       
   
 
     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2 Diagram alir prosedur fieldtrip di Pelabuhan Ratu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3HASIL OBSERVASI LAPANG

 

3.1        Kerang hijau (Perna viridis)

 

Gambar 3 Kerang hijau (Perna viridis)

Klasifikasi kerang hijau menurut Vakily (1989) adalah sebagai berikut:

Filum               : Molusca

Kelas               : Bivalvia

Sub Kelas        : Lamellibranchiata

Ordo                : Anisomyria

Famili              : Mytilidae

Sub Famili       : Mytilinae

Genus              : Perna L.

Spesies            : Perna viridis L.

Kerang hijau merupakan hewan invertebrata (tidak bertulang belakang) yang bertubuh lunak (mollusca), mempunyai dua cangkang (bivalvia) yang simetris satu sama lain dan berkaki kecil yang berbentuk kampak. Kerang hijau umumnya hidup di laut dengan cara menempel pada substrat yang keras menggunakan byssus. Secara morfologi, anggota famili Mytilidae mempunyai cangkang yang tipis, keduanya simetris dan umbonya melengkung ke depan. Persendiannya halus dengan beberapa gigi yang sangat kecil. Perna dicirikan dengan bentuk yang agak pipih, cangkang padat, dan mempunyai umbo pada tepi vertikal. Tipe alur cangkangnya konsentrik, bersinar, berwarna hijau, dan kadang-kadang tepinya berwarna kebiruan. Kedua cangkangnya berukuran sama meskipun salah satu cangkang agak sedikit lebih cembung daripada yang lainnya (Augustine 2008).

Komposisi kimia kerang hijau yaitu kandungan protein sebesar 12.03%, kandungan lemak sebesar 2.48%, kandungan karbohidrat sebesar 5.62%, dan kandungan air sebesar 81.13% (Marichami et al. 2011). Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu nelayan di Pelabuhan Ratu, kerang hijau biasa didapatkan di laut sebagai hasil sampingan atau ditangkap melaui tambak mutiara. Alat tangkap yang digunakan menggunakan jaring, sedangkan kerang hijau yang berada pada tambak biasanya menempel pada jaring sekitar tambak. Ukuran yang siap panen adalah ukuran kerang yang berumur 2 bulan. Ukuran maksimal pada kerang  hijau adalah pada saat kerang hijau mencapai umur 3 bulan. Pemanfaatan kerang hijau yaitu dikonsumsi untuk dagingnya, sedangkan pemanfaatan lain yaitu cangkang yang dapat digunakan sebagai hiasan.

3.2        Ikan layur (Trichiurus spp.)

 

Gambar 4 Ikan layur (Trichiurus spp.)

Klasifikasi ikan layur (Trichiurus spp.) menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut:

Kingdom         : animalia

Sub filum        : Vertebrata

Sub kelas         : Teleostei

Ordo                : Percomorphi

Sub ordo         : Scombroidae

Famili              : Trichiuridae

Genus              : Trichiurus

Spesies            : Trichiurus spp.

Ikan layur memiliki badan sangat panjang dan pipih seperti pita. Terdapat gigi yang kuat di kedua rahang gigi yang terletak dibagian depan rahang atas seperti taring runcing dan kuat. Sirip punggung panjang berawal dekat belakang kepal, bagian depan berduri keras yang kadang – kadang terpisah dengan  bagian sirip yang berduri lemah oleh suatu lekukan yang mudah dilihat, bagian yang berduri keras lebih panjang daripada yang beduri lemah. Sirip dada mengecil menjadi seperti duri keras dengan jari – jari berdiameter atau tidak ada sama sekali, sirip dubur pendek, sirip ekor mengecil pada ujungnya, memiliki warna keperakan, dan sedikit gelap sepanjang punggungnya (DKP 2004).

            Daerah penyebaran untuk jenis ikan Layur yaitu tersebar di seluruh perairan Indonesia. Ikan layur merupakan penghuni dasar perairan dan pelagis. Melihat dari morfologi kepala, mulut dan gignya ikan layur tergolong jenis predator yang memangsa hewan – hewan lain yang berukuran lebih kecil dari tubuhnya seperti jenis krustaceae, cephalopoda, dan berbagai jenis ikan lainnya.  Alat penangkapan yang biasa digunakan ialah trawl dasar, pancing ulur, jaring insang dan bubu (DKP 2004).

            Hasil wawancara yang dilakukan pada nelayan yang ada disekitar Palabuhan Ratu ialah jenis ikan layur ditangkap menggunakan alat tangkap longline. Menangkap ikan layur diperlukan umpan berupa ikan tembang. Penangkapan biasanya dilakukan pada malam hari sekitar pukul 20.00 WIB. Fishing ground ikan layur berada di daereah perairan Laut Jawa. Satu kali melakukan perjalanan, hasil tangkapan rata-rata berkisar ratusan kilogram pada musim penangkapannya. Namun untuk musim yang biasa hasil pengangkapan tidak menentu. Ikan layur dijual dengan harga Rp 25.000/ kg. Penanganan yang dilakukan setelah tertangkap biasanya ikan disortir terlebih dahulu dari jenis, ukuran, dan berat, panjang, dan lainnya, setelah itu ikan dikirim ke PT. Auri atau PT. AGB yang ada disekitar Pealabuhan Ratu untuk ditangani lebih lanjut seperti dilakukan pembersihan jeroan, disortir kembali menurut gradenya. Grade untuk masing-masing PT. berbeda-beda bergantung pada ketentuan setiap PT. Tahap berikutnya adalah pengawetan dengan cold storage oleh PT. tersebut unutk mempertahankan mutu ikan yang akan di eksport.

            Komposisi kimia ikan Layur dalam 100 gram bahan akan disajikan pada tabel berikut :

Tabel 1 Komposisi kimia ikan layur (Trichiurus spp.)

Komponen

Kandungan (%)

Air

78,98

Protein

16,38

Lemak

0,70

Abu

1,21

Sumber : (Setiawan 2008)

 

            Pemanfaatan ikan layur hanya berupa ikan konsumsi. Ikan jenis ini juga dapat diolah menjadi berbagai bentuk produk olahan lainnya salah satunya ialah kerupuk. Pada pembuatan kerupuk, daging ikan layur biasanya yang dimanfaatkan dalam pengolahan tersebut. Menurut Susanti (2007) berbagai jenis kerupuk dapat dibuat dari daging ikan layur seperti kerupuk getas dan kerupuk opak.

 

3.3        Ikan tongkol abu-abu (Perna viridis)

 

Gambar 5 Ikan tongkol abu-abu (Thunnus tonggol)

Klasifikasi ikan tongkol menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut:

Filum               : Chordata

Subfilum         : Vertebrata

Kelas               : Actinopterygii

Subkelas          : Neopterygii

Ordo                : Perciformes

Subordo          : Scombridei

Famili              : Scombridae

Genus              : Thunnus

Spesies            : Thunnus tonggol

Ikan tongkol abu-abu memiliki cirri-ciri pada pangkal sirip sirip punggung, dubur, perut dan dada mempunyai lekukan pada tubuh. Ikan tongkol dapat ditemukan di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik bagian barat. Panjang maksimum ikan tongkol 1 meter. Ikan tongkol ini termasuk ikan perenang cepat karena sirip-sirip pada ikan tongkol dapat dilipat masuk ke dalam lekukan sehingga pdat memperkecil daya gesekan air pada saat ikan sedang berenang dengan kecepatan penuh (Irianto et al. 2007)

Komposisi kimia pada daging ikan berbeda beda tergantung pada jenis, umur, kelamin, dan musim. Komponen kimia utama pada daging ikan adalah air, protein, dan lemak. Kandungan kimia lainnya hanya berjumlah sedikit antara lain karbohidrat, vitamin dan mineral. Ikan tongkol merupakan jenis ikan yang memiliki kandungan gizi yang tinggi dimana nilai protein mencapai 26 %, kadar lemak yang rendah yaitu 2 %, dan kandungan garam-garam mineral penting yang tinggi. Ikan tongkol terdiri dari daging merah dan daging putih (Andini 2006).

Beberapa jenis tongkol bisanya digunakan sebagai bahan baku ikan kaleng. Ikan tongkol termasuk ke dalam golongan tuna, umumnya dinamakan jenis eastern little tuna (Euthynus spp.) sehingga ikan tongkol ini dapat digunakan untuk bahan baku ikan kaleng. Ikan kaleng ini akan di ekspor dan sebagian untuk konsumsi dalam negeri. Golongan  tuna termasuk ikan tongkol juga biasanya  dipasarkan sebagai produk segar dalam bentuk utuh disiangi, sebagai produk beku dalam bentuk utuh disiangi, loin dan steak (Irianto et al. 2007).

Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan sekitar Pelabuhan Ratu, ikan tongkol biasanya ditangkap dengan menggunakan alat tangkap berupa jala atau payang. Penangkapan dilakukan pada waktu siang hari bergantung jenisnya. Banyaknya hasil tangkapan untuk sekali perjalanan berkisar antara 1 kwintal. Harga penjualan ikan tongkol adalah 17.000/kg. ikan tongkol yang dijumpai di tempat pelelangan ikan terdiri dari beberapa jenis, namun jenis tongkol abu-abu merupakan jenis yang sering ditemukan. Pemanfaatan ikan tongkol hanya sebagai ikan konsumsi. Ikan yang tidak terjual diolah menjadi ikan asin dan dijual ke konsumen.

 

3.4       Ikan kantong semar (Mene maculata)

 

Gambar 6 Ikan kantong semar (Mene maculata)

Klasifikasi ikan kantong semar (Mene maculata) menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut:

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Subfilum         : Vertebrata

Kelas               : Actinopterygii

Subkelas          : Neopterygii

Ordo                : Aulopiformes

Subordo          : Percoidei

Famili              : Menidae

Genus              : Mene

Spesies            : Mene maculata

Ikan kantong semar (Mene maculata) menurut merupakan jenis ikan laut yang memiliki bentuk badan hampir menyerupai segitiga, dengan tubuh di bagian bawah garis lateral ukurannya empat kali lebih besar dibandingkan di bagian atasnya. Ikan ini mempunyai satu sirip dorsal yang jumlah jari-jarinya berkurang seiring bertambahnya usia. Selain itu juga mempunyai mulut yang kecil hampir vertikal dengan jumlah gigi yang terbatas (Diniah 2008).

Ikan kantong semar melakukan reproduksi secara dioceous dan pembuahan eksternal. Habitat ikan ini biasanya hidup di air payau dan air laut dengan kisaran kedalaman 1-25 m. Daerah penyebarannya adalah semua laut di daerah tropis dan semua lautan indo pasifik. Ikan ini banyak tertangkap di perairan pantai serta hidup berkelompok sampai kedalaman 80 m (Diniah 2008).

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu nelayan di Pelabuhan Ratu, ikan kantong semar memiliki nama local yaitu ikan eteman. Alat tangkap yang digunakan untuk mengangkap ikan kantong semar adalah jala. Waktu penangkapan dilakukan pada siang hari. Harga ikan ini berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 11.000 per ikat (setiap satu ikat terdiri dari 5 ekor ikan). Hasil tangkapan nelayan tidak tentu bergantung pada musimnya. Pemanfaatan ikan kntong semar hanya sebagai ikan konsumsi. Ikan ini tergolong ikan yang cepat busuk dibandingkan ikan lain dijual. Daya tahan ikan di dalam box berisi es sekitar 1 minggu. Apabila sudah melebihi, ikan akan diolah menjadi ikan asin.

3.5        Ikan pari (Dasyatis kuhlii)

 

Gambar 7 Ikan pari (Dasyatis kuhlii)

Klasifikasi menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut :

Filum               : Chordata

Sub filum        : Vertebrata

Kelas               : Pisces

Sub kelas         : Elasmobranchii

Ordo                : Batoidei

Famili              : Dasyatidae

Genus              : Dasyatis

Spesies            : Dasyatis kuhlii

Umumnya ikan perenang cepat akan mempunyai bentuk tubuh seperti torpedo, yaitu bentuk tubuh yang ramping dengan potongan lintang badannya berbentuk elips dan bentuk ekor yang sempit misalnya ikan pari (Dasyatis kuhlii). Ikan pari (Dasyatis kuhlii) merupakan kelompok ikan bertulang rawan yang umum dijumpai di perairan Laut Jawa. Adapun ciri-ciri dari ikan pari diantaranya kerangka terdiri dari tulang rawan, tidak mempunyai tutup insang, celah insang terbuka dan berada di bawah serta mulut di bawah hidung.  Bentuk tubuh yang berbentuk belah ketupat, ceper, picak (gepeng ke bawah dan tinggi jauh lebih kecil dari pada tebal ke samping), bibir depan segi empat, lebih lebar dari pada panjang. Sirip ikan pari ini tebal dan tidak berlipat-lipat. Sirip ekor tidak simetris, seperti pecut dan kecil di ujungnya, biasanya berduri tajam dan beracun. Ekor berlipatan kulit pada bagian bawahnya, tetapi tidak sampai di ujung pecut. Kulit ikan pari tidak bersisik , tetapu licin dan berduri. Pada punggung terdapat duri berupa benjolan yang terpusat di dua tempat. Duri ini sebagai sirip punggung. Ikan pari berwarna merah sawo matang mengkilat bagian atas dan putih bagian bawah. Selaput kulit pada ekor gelap keunguan, sirip perut berwarna ungu (Wahyuni 2007).

Komposisi ikan pari meliputi kadar air 79,10% , kadar abu 0,83%, kadar lemak 0,42% dan kadar protein 16,86% (berat kering). Kandungan mineral meliputi Na 381,09 mg/100g, Mg 173,55 mg/100g, Ca 21,60 mg/100g, Cu 2,16 mg/100 g, Zn 0,97 mg/100g, K 78,82 mg/100g dan P 146,82 mg/100g. Disamping itu ikan pari juga mengandung asam amino yang cukup tinggi seperti alanin 4,56 g/100g, arginin 10,45 g, asam aspartat 6,01 g, cistin 1,51g, asam glutamate 10,55 g, glisin 10,50 g, histidin 3,84 g, isoleusin 4,68 g, leusin 7,68 g, lisin 5,01 g, methionin 4,41 g, phenilalanin 5,89g, prolin 4,12 g, serin 4,80 g, threonin 6,49 g, tirosin 5,05 g dan valin 4,45 g (Apriyanto 1989). Berdasarkan data diatas terlihat bahwa ikan pari memiliki kandungan gizi tinggi protein dan kalsium.

Berdasarkan wawancara dengan nelayan sekitar, penangkapan ikan pari menggunakan jarring atau pancing. Waktu pengangkapan dilakukan pada siang atau malam hari. Pemanfaatan pada ikan pari tidak hanya pada bagian daging. Daging ikan pari dapat dijadikan abon. Ekor ikan pari juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan. Selain itu kulitnya dapat dijadikan sebagai sumber alternatif gelatin. Kurangnya sumber daya manusia mengakibatkan pemanfaatan ikan pari tidak mempunyai nilai jual yang tinggi khususnya dalam pengolahannya. Sejauh ini, pengolahan ikan pari mentah hanya terbatas pada pengasapan dan pengasinan untuk mengawetkan daging tersebut dari pembusukan. Seperti halnya seorang nelayan di Pelabuhan Ratu yaitu Jaka yang memanfaatkan ekor dari ikan pari sebagai hiasan atau cambuk. Pengolahan yang sering dilakukan biasanya dikeringasinkan. Harga jual ikan pari setelah di tangkap Rp 25.000/ kg, sedangkan berat rata-rata ikan pari per ekor sekitar 7 kg.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 SIMPULAN DAN SARAN

4.1        Simpulan

            Pelabuhan Ratu, Sukabumi merupakan salah satu daerah yang berperan dalam bidang perikanan, dibuktikan dengan beragamnya hasil tangkapan nelayan serta aktivitas-aktivitas perikanan lainnya. Observasi lapang yang dilakukan di Tempat Pelelangan Ikan Pelabuhan Ratu, Sukabumi menambah pengetahuan peserta fieldtrip dalam hal pemanfaatan dan pengalaman dari berbagai nelayan. Waktu penangkapan masing-masing ikan berbeda tergantung jenisnya. Hampir seluruh nelayan menggunakan jaring sebagai alat tangkap. Apabila ikan tidak laku terjual tahap pengasinan merupakan tahap paling akhir dari semua jenis ikan untuk menghindari kebusukan.

4.2        Saran

Fieldtrip sudah dilakukan dengan baik, namun perlu perbaikan dari segi tempat tujuan yaitu lebih diperbanyak lagi agar biota yang dipelajari lebih banyak dan beragam. Praktikan juga dapat membandingkan mutu suatu biota perairan dari awal penanganan hingga sampai di tangan konsumen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Andini YS. 2006. Karakteristik surimi hasil ozonasi daging merah ikan tongkol (Euthynnus sp.) [skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Apriyantono. 1989. Analisis Pangan. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB.tar Pustaka

Augustine D. 2008. Akumulasi hidrokarbon aromatik polisiklik (pah) dalam kerang hijau (perna viridis l.) di perairan kamal muara, teluk jakarta [skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

 

[DKP] Direktorat Jendral Perikanan Tangkap. 2004. Klasifikasi Ikan Laut Unutk Statistik Perikanan Tangkap. Departemen Kelautan dan Perikanan: Direktorat Jendral Perikanan Tangkap

Irianto HE dan Akbarsyah Teuku MI. 2007. Pengalengan ikan tuna komersial. Jurnal squalen. 2 (2)

Marichamy G, Shanker S, Saradha A, Nazar A.R dan Badhul Haq M.A. 2011. Proximate composition and bioaccumulation of metals in some finfishes and shellfishes of Vellar Estuary (South east coast of India). European Journal of Experimental Biology. 1 (2) : 47-55

 

Saanin. 1984. Taksonomi dan Kunci Ikan. Bina Cipta. Bandung.

Setiawan E. 2008. Diversifikasi produk tradisional kerupuk getas dari ikan lele (Clarias batrachus) dan ikan layur (Trichiurus spp.). [Skripsi]. Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Departemen Teknologi Hasil Perikanan. Institut Pertanian Bogor

Susanti M R. 2007. Diversifikasi produk kerupuk opak dengan penambahan daging ikan layur (Trichiurus spp.). [Skripsi]. Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Departemen Teknologi Hasil Perikanan. Institut Pertanian Bogor

Vakily, J.M. 1989. The biology and culture of genus Perna. ICLARM. Studies and Reviews. Oventsche Gesselschaff for Technische Zusammeurnabeit (GTZ) GMBH Eschborn. Federal Republic of Germany.

 

Wahyuni. 2007. Sains Akuatik. Erlangga. Purwokerto. 10 (2) : 141-147.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: